Selasa, 03 April 2012

my Pic

Edit Posted by with 1 comment
19 maret 2012
thank's ya dear sudah buatkan aku gambar se-Unyu ini.....
created by: Hanniesa Putri utami :)

3 word change your world

Edit Posted by with No comments


Ketika kamu memerlukan bantuan orang lain, jangan lupa selipkan kata "tolong" dalam kalimatmu.
Jika kamu melakukan kesalahan & melukai org lain, jangan malu ucapkan "maaf" untuk memperbaikinya.
Tatkala kamu mendapatkan sesuatu dari org lain, jangan lupa katakan "trimakasih" sbgai penghargaan.

3kata ajaib, yg bisa mencerminkan pribadi yg baik apalagi kalau disertai senyum ikhlas.
mudah, tapi tidak semudah untuk disepelakan.
Sulit, tapi tidak sulit untuk dikerjakan.

♥ (*) ◦°˚• ŞéƖαмαƭ Pαğî •˚°◦ (*) ♥.

Senin, 02 April 2012

ZooM @ITB 01 Okt 2011

Edit Posted by with No comments
Sabtu, 01 Oktober 2011
"Kompas lampus" Live dari lapangan Basket kampus ITB ZooM Boyband membawakan single pertamanya "Tak Ingin lagi"
Pertama ketemu ZooM waktu ZooM perform di Kompas Kampus ITB. Acaranya Off Air. Dan disitu blm terlalu kenal byk temen2 ZooM In... Lagian acaranya jg hari sabtu siang, masih jam anak sekolahan >,< yg dateng Aku, Asrie, Joshie (dr Bandung) Aggita (dr Solo) + anak2 LDC (Love Dance Comunity) Meii dkk ^^ Eits, katanya ada yg dr Jakarta jg tp akunya gak kenal (‾▽‾)♉ Kita janjian di MC'D Simpang Dago jam 10 pagi. Sedangkan ZooMnya perform jam 2siang.... >,<

Sampai di tempat acara, Lapangan Basket Kampus ITB kita duduk tuh diatas rumput dibawah pohon soalnya panas, gak disediain tenda apalagi tempat duduk buat penonton :( walaupun akhirnya diusir jg sama satpam gara2 ternyata rumputnya gak boleh diinjek -___-

Lamaa nunggu ZooMnya perform, kita mention sama Koko2 ZooM.... Kata Ko Evan kitaa disuruh ke Ruang artis aja tmpat mereka ngumpul ^^ Dan sampaii disana Aaaaaaaaaaaaaaaaa..... SHOCK!!!! Ganteng gilaaaa.... CoTu, CoVan, CoHen, CoYuz, CoTem, CoAng (Panggilan jaman dulu) putiiiiihhhhh bangett,, muluss dahh tuh kulitt bule semua :D 
ZooM Boyband @Backstage

Disaat Artis lain berusaha JAIM,,, sedangkan ZooM dgn muka berseri seri keluar dr Ruang artis buat nyapa kita donk.... Ya Ampun,,, Itu sesuatu bangett!!!! Kita kenalan disanaa.... Soalnya Co Yuzef bilang "Kalo udh sampe lsg sebutin nama" Hahahahaha baik bangett yaakk \(•ˆ⌣ˆ•)/

Kita juga kenalan sama managernya ZooM,,, yg cantiknya kayak model. (Emang Ci Fina kan model yakk (‾o‾"!)ƪ(˘- ˘) Ci Fina ngijinin kita sepuasnya ketemu ZooM,,Hίhί::hίhί::hίhί::.

Nahh kita ngobrol sebentarr soalnyaa ZooM nya mau prepare buat tampil,,, kita jg siap2 donk buat triak triak di Lapangan nyanyi bareng "Cukup cukup bagikuu.... Tak Ingin Lagi" :-D Kalo merekaa lg perform Aura gantengnyaa keluarr.... Apalagi tatapannya Ko Tukong (Kevin Liu) JLEBB... Menyihirrr ... Zzzzzz 
sebelum perform pemanasan dulu yaaahhh...... :p 
sesudah perform ZooM diwawancarai..... Lirik Ko Evan ttp stay cool ^^

SUKSES!!!! Bikin semua penonton bernyanyi ria + triak triak panggil nama mereka, turun panggung mereka sempetnya salaman sama ZooM In ^^ Terus kita ikutin lagi mereka ke Ruang Artis ...

Nunggu beberapa menit mereka istirahat + Makan, kita Lanjutin obrolan yg tadi + foto bareng tentunya :-D
Co Hendri (Leymuel) yg lagi makan tiba2 memberhentikan makannya waktu ada ZooM In yg panggil2 namanya cuma buat minta ttd. Duuuhhh baiknyaa... 
Sebelum ZooM pulang, kita kan foto foto tuhh... Angga Putera Baruna (yg rambutnya paling unik sendiri) + Ko Temmy ( Koko unyu yg punya lesung pipi) bersama koko2 yg lainnya sempet bercanda sama kita... Ketawa ketawa bareng :) Seakan gak ada batasan antara ZooM + ZooM In ^^ Kita kayak ketemu Kaka/sahabat bukan sekedar ketemu Idolaa yg dipuja puja :*
mauuu tauuu keseruan kita di backstage bersama ZooM.... yuukkk check it out!



with ko Tukong (cinta pertama saya di ZooM) hahahaha :p

ini lagi ngapain yaahhh ..... *getok angga :p
ini Asrie, Ci Fina, sama Aggita ^^
with Ko Temmy & Aggita..... 2 orang yang lagi pamer lesung pipi nihh...hahahaha


sebelum pamit pulang kitaa minta tanda jejak sama koko Zoom.... ini dia tanda jejaknyaa..... hahaha





haaaaaaaa saatnyaa kita pulanggg......hikss hikss...  pengalaman hari itu sangat berkesann ^^ semoga bisa bertemu sama kalian lagiii.....
cukupp sampai disini duluu cerita saya bersama ZooM dan Zoom In.... Terimakasih sudah menyempatkan baca .... sampai ketemu dicerita selanjutnyaa.....
daaaaa.... *HugKiss

Rabu, 15 Februari 2012

SEPOTONG EPISODE BULAN DESEMBER

Edit Posted by with No comments
Gemiricik hujan mengalunkan nada pilu. Rintik-rintiknya menutup akhir tahun 2010. Entah bagaimana awalnya Rey meneteskan butir-butir air mata pada diary yang digenggamnya erat. Ia tak dapat menutupi kegundahan hatinya yang membungbung tinggi dan menjadi beban berat dalam batinnya. Hanya menangislah satu-satunya cara untuk melampiaskan segala apa yang ia rasa. “Setidaknya kau bicara pada Lisa tentang perasaanmu yang sebenarnya. Jelaskan padanya agar dia mengerti!” “Tidak. Biarkan semuanya seperti ini.” tegas Dye tetap keras kepala. “Tapi kamu seolah memberinya harapan…” “Siapa yang memberi harapan? Dari awal aku mengenal Lisa aku anggap dia teman. Kalau pada akhirnya dia mempunyai perasaan padaku itu wajar. Dan aku tidak mau membahas ini karena takut menyakiti perasaannya.” “Tapi…” Rey tak melanjutkan ucapannya. “Sudahlah, hak aku untuk memilih dan menolak.” Percakapan kemarin telah jadi memori kelam di hari-hari Rey. Meskipun waktu itu Rey hanya menyampaikan perasaan Lisa tetapi sebenarnya Rey sedang berkamuplase menjadi sosok Lisa. Setiap pertanyaan Rey adalah apa yang sebenarnya disampaikan oleh hatinya. Perasaan yang dirasakan Lisa sesungguhnya juga dirasakan oleh Rey. Mencintai seorang sahabat adalah perasaan yang menyiksa batin. Bahkan perasaan Rey terhadap Dye lebih lama dari Lisa. Waktu delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk mempertahankan perasaan yang terpendam. Banyak sekali cobaan dan hasrat untuk mengngkapkannya. Akan tetapi semua itu bisa dilewati Rey dengan prinsip yang teguh bahwa tak ingin mengubah persahabatan yang sudah terjalin dengan nyaman. Yakin bahwa mencintai tak harus memiliki. Hanya dengan saling berbagi dan dapat berkorban itulah ketulusan cinta yang sebenarnya. “Hak aku untuk memilih dan menolak.” Ucapan Dye seakan terus terngiang ditelinganya meskipun bukan untuknya, tapi Rey sangat yakin dia akan merasakan hal yang sama jika dia ada dalam posisi itu. Bahkan mungkin lebih buruk. Yah, kenyataan itu benar-benar terjadi! Ucapan itu berlaku juga untuknya. Bagai busur panah yang menancap dan membuat lubang dihatinya karena tak menyangka sesuatu yang ia takutkan selama ini terjadi. Dye tahu perasaannya! “Sudahlah Rey jangan kau sesali sesuatu yang sudah terjadi. Memang sudah takdirnya Dye tahu perasaanmu dengan cara seperti ini.” “Tapi aku juga punya hak untuk mencintai seseorang dengan caraku sendiri.” “Sampai kapan kamu akan menyembunyikan perasaanmu? Sedangkan semua orang juga bisa menbaca matamu kalau kamu punya perasaan khusus pada Dye. Dan memang sudah saatnya kamu pun tahu bagaimana perasaan Dye sama kamu.” Jelas Danea. “Tapi aku belum siap, apalagi dengan cara seperti ini. Dye tahu perasaanku dari buku diary dan itu privacyku.” “Kalau menurutku sebenarnya tanpa membaca diarymu sekalipun Dye udah tahu sejak lama, hanya saja dia tidak bicara langsung padamu karena dia menghargai persahabatan kalian. Seperti halnya pada Lisa.” Rey masih terisak. Sebentar dadanya terasa sangat sesak. Biasanya dengan mengurut dada Rey sudah merasa baikan, tapi kali ini tidak. rasa nyeri didadanya begitu kuat dan sakit. “Sekarang Dye memang tahu tapi aku yakin dia tidak mengerti.” Dye memang egois! Orang paling egois yang pernah dikenal Rey. Saat ini Dye lebih menjadi ‘babu’ atas orang yang dia pilih daripada Rey. Dye agungkan segala pengorbanan wanita itu padahal Dye baru mengenalnya. Tapi, Dye tidak pernah menghargai sedikitpun pengorbanan Rey selama ini. Rey ingat Dye pernah mengatakan bahwa Rey hanyalah salah satu orang yang care padanya. Mungkin itu tidak akan pernah lebih. Lagipula Dye tidak pernah mau tahu tentang perasaan Rey. Bahkan setelah Dye tahu pun Dye mengatakan penyesalannya dicintai seorang ‘itik buruk rupa’. Rey sangat tahu meskipun ucapan itu tidak langsung ditujukan padanya, Rey mengerti maksud Dye sebenarnya adalah menyuruh Rey untuk berkaca! Berkaca arti dirinya dihadapan Dye. Akan tetapi nyatanya Rey lebih tahu diri tanpa Dye menyuruhnya sekalipun. Dalam hal ini Rey bukanlah orang yang paling bersalah. Diapun tak menganggap dirinya terlalu hina untuk mencintai seorang Dye. Bertahun-tahun Rey memendam perasaan untuk Dye tanpa berani menyinggungnya sedikitpun, berusaha menjadi Fatimah yang mencintai Ali bin Abi Thalib. Karena Rey sangat tahu Dye tidak akan pernah bisa menerima ‘itik buruk rupa’. Rey tidak pernah berharap sekalipun itu dalam mimpinya untuk memiliki Dye. Rey hanya mencintainya dengan tulus tanpa mengharap balasan yang sama. Ah, sudahlah terlalu perih untuk diingat. Rey memutuskan untuk diam saja. Tak akan ada gunanya ia mengklarifikasi dan memaksa Dye untuk mengerti. Sampai kapanpun orang egois seperti dirinya tidak akan pernah memahami arti ketulusan. Tepat hari itu juga handphone Rey tidak berhenti bordering. Beberapa pesan masuk belum sempat dibacanya. “Halo?” sapa Rey kemudian. “Kok baru diangkat sih? Kamu dimana?” tanya seseorang diujung telepon. “Aku di rumah Danea.” “Suaramu kok aneh, kamu habis nangis ya? Kenapa?” “Enggak kok. Aku enggak apa-apa.” Dusta Rey. Sudah beberapa minggu ini Rey punya pengagum rahasia. Namanya Yoga. Awal dia menelpon Rey, dia tahu semua tentang Rey bahkan dia mencintai Rey sejak lima tahun yang lalu. Dia mengaku kalau sebenarnya dia adalah kakak kelas Rey sewaktu SMP. Baru kali ini dia berani mendekati Rey walau itu dengan cara misterius seperti ini. Dia bilang sayang pada Rey bahkan setiap hari memberi Rey perhatian melebihi perhatian ibunya. Tapi, lama-lama Rey penasaran dan beberapa kali membujuknya untuk bertemu agar Rey tahu siapa orang yang begitu tulus mencintai orang sepertinya. Namun selalu gagal karena alasan-alasan yang tidak masuk akal. Jika sudah begitu, Rey pun tak mungkin memaksanya lagi. Rey mengerti setiap orang punya caranya sendiri untuk mencintai. Dan Rey sudah cukup senang karena masih ada cinta untuknya. “Kak..” “Ehm, Kenapa?” “Ini permintaanku yang terakhir dan aku tidak akan memaksa lagi. Ijinkan aku bertemu kakak!” “Kalau sudah bertemu mau apa? Jika sudah waktunya aku akan langsung datang ke rumahmu bersama kedua orang tuaku.” “Maksud kakak?” “Aku akan melamarmu.” “Tidak segampang itu, kak! Kakak tahu semua tentang aku tapi aku tidak tahu kakak…” “Yang penting kamu tahu aku sayang sama kamu, Rey!” Yah, beginilah rasanya dicintai, sangat bahagia. Serasa ada yang terus memantau dan menyemangati. Mengerti arti dan tujuan hidup. Ada inspirasi untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun sesungguhnya Rey tak pernah melepas bayangan Dye dalam benaknya. Huft, so must go on! Masih ada yang menyayanginya dengan tulus. Hidup bukan hanya bertahan untuk satu orang saja. Setiap kali Rey bersedih mengingat perlakuan dingin Dye, sejenak Yoga hadir bagai peri pembawa kegembiraan. Mengubah hari-harinya lebih indah. Sampai suatu hari Rey berhasil membujuk Yoga untuk menemuinya di dekat dermaga. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang aneh dengan syarat yang diajukan Yoga agar mereka bisa bertemu. “Aku akan menunggumu jam sepuluh pagi. Tapi ada syaratnya…” “Apa itu kak?” “Kamu harus datang sendiri.” “Kenapa?” “Ya..aku hanya ingin bertemu denganmu saja bukan dengan orang lain.” Rey mengiyakan. Ia tak ingin menanyakan hal-hal yang aneh tentang syarat yang diberikan Yoga yang bisa mengubah keputusan Yoga untuk bertemu dengannya. Rey sangat bahagia akan bertemu dengan kekasih misteriusnya. Kebahagiaan ini ia kabarkan juga pada sahabatnya, Danea. Tentu saja Danea merasa senang melihat sahabatnya bangkit dari keterpurukan. Rey mengatakan pada Danea ia berjanji akan menerima seperti apapun Yoga nantinya. Ia tak lagi memikirkan tampang, cukup dia mencintai Rey dengan tulus dia akan menerima Yoga apa adanya. “Tapi Rey kamu kan hanya tahu Yoga dari telepon. Semuanya bisa dimanipulasi lho! Kamu belum benar-benar mengenal siapa dia…” ungkap Danea menjelaskan kekhawatirannya. “Yaa, aku tahu itu. Makanya besok aku akan mencari tahu siapa dia.” “Perlu aku temani?” “Enggak usah. Yoga menyuruhku datang sendiri.” “Tapi…” “Aku bisa jaga diri…” Rey meyakinkan Danea agar tidak khawatir. **** Pagi itu Rey datang ke demaga lebih awal. Matahari masih hangat menyinari hari yang mulai cerah. Rasa penasaran campur bahagia ia rasakan kala itu. “Kamu dimana?” Rey mengirim pesan singkat pada nomor Yoga. Beberapa lama tak ada balasan. Rey kirim ulang pesan itu, masih tak ada balasan juga. Rey mencoba menghubungi nomornya berharap bukan kesengajaan Yoga tak membalas pesannya. Ada pesan dari Yoga. “Aku udah sampai, kamu dimana?” Rey mengerutkan kening. Seharusnya dia yang bertanya demikian. Sungguh, aneh! Rey tidak langsung membalas pesan itu dia berusaha mencari-cari disekitarnya. Siapa tahu Yoga benar-benar sudah datang hanya saja Rey tidak melihatnya. Rey melayangkan pandangannya mengitari setiap sudut dermaga tempatnya berdiri saat itu namun tidak ada seorang pun disana. Sepi. Lagipula jika ia mencari sosok Yoga, tak ada bayangan sedikitpun dalam benaknya. Bagaimana wajahnya? Tinggi badannya? Atau apapun! Yang Rey tahu hanya suara Yoga. “Aku ada di dermaga dekat dengan pohon akasia di sebelah timur.” Jelas Rey dalam sms. “Aku ada di dekatmu, Rey!” Rey kaget mendapat balasan sms seperti itu. Antara tidak mengerti dan takut. Rey merasakan ada hal aneh sedang terjadi padanya. Rey melirik kesamping kiri dan kanan. Tak ada apa-apa kecuali dirinya yang benar-benar sedang berdiri sendiri. “Kakak jangan bercanda. Aku enggak lihat siapa-siapa disini.” “Kamu memakai kemeja putih, jeans abu-abu dan kerudung yang senada, kan?” “Iya. Kakak dimana?” Rey terus bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya Yoga inginkan darinya? Serumit inikah memahami cinta? Caranya mencintai benar-benar tidak logis. Atau ini adalah bagian dari sebuah permainan? Ah, Rey tidak mengerti. Satu jam Rey menunggu tanpa ada kepastian. Sms yang terakhir dikirimnya tak juga ada balasan. Rey benar-benar merasa dipermainkan. Ia sudah mengelilingi dermaga untuk mencari sosok yang ia harapkan kedatangannya. Tapi siapa dia? Rey tak mengenalinya. Ia hanya bermodalkan nama dan suara? Huft, ratusan orang didunia ini memiliki nama dan suara yang sama. Tiba-tiba seseorang keluar dari balik pohon akasia. Dia jelmaan dewa yang datang kemudian merangkulku. “Danea…” “Aku tahu kamu akan menangis lagi makanya aku diam-diam mengikutimu.” Jelas Danea seolah tahu apa yang akan Rey tanyakan. “Aku seperti mengharapkan angin. Sesakit inikah cinta untukku?” “Ada banyak hari yang lebih indah yang akan kau dapatkan daripada menangisi hari ini. Bangunlah! Semuanya akan berlalu.” Rey tetap menangis. Entah siapa yang akan dia salahkan? Semuanya begitu abstrak untuk ia artikan maknanya. Dia terus menanyakan dirinya pada Tuhan? Salah apa yang telah diperbuatnya sehingga harus mendapat hukuman seberat ini. salahkah bila dia mencintai atau dicintai? Akhirnya Rey benar-benar angkat tangan dengan masalah yang menimpanya. Memutuskan untuk kembali pada perasaan yang hampa tanpa harus mengingat dan merasakan sesuatu yang menyakitkan seperti ini. Mencintai atau dicintai keduanya sulit untuk dijalani jika pada akhirnya akan sesakit ini. Segala sesuatu yang ada di dunia ini terkadang banyak yang mengecewakan. Cinta! Ah, lima huruf yang menghadirkan khayalan masa indah sekaligus mengingatkan berbagai persoalan sebagai bumbu-bumbu pelengkapnya. Cinta, kata yang tidak pernah habis untuk diartikan. Semua orang mencoba mengartikannya dengan persepsi dan caranya sendiri. Akibatnya kata yang paling banyak artinya kata itu tak lain adalah cinta.

MATAHARI TAK SENDIRI

Edit Posted by with No comments
Tak selamanya rasa cinta dibalas dengan cinta, begitupun ketulusan! Kalaulah hati tak dapat menerimanya saat ini mungkin suatu saat bisa. Tak ada seorangpun yang baik menerima kecewa dan sakit hati. Biarlah semuanya menjadi bagian proses pendewasaan diri. Jika ada yang memuji keindahan bulan dan bintang ketika malam, maka matahari juga tak kalah indah dikala siang. Aku masih bisa bertahan dan akan terus berjalan sampai ke ujung, sampai aku dapat temukan semua hikmah di balik rahasia. Meniti kehidupan adalah daun-daun ilmu yang berserakan. Sudah sepuluh bulan berlalu, hati tak kunjung reda dari kegelisahan yang menghantui. Apakah kesadaran makna cinta yang dirajut dalam bahtera rumah tangga juga tertanam dalam hatimu? Sungguh, aku tak mengerti hatimu. Aku tetap menanti sesuatu yang tak aku tau ujungnya. “Suamiku, kapan kau pulang?” Disetiap malam aku menyendiri dalam gelap. tak peduli bintang ataupun bulan. Aku hanya ingin menangis. Mengadu setiap jengkal rasa yang mengumpul dalam perasaanku. Mencoba menyingkirkan rasa kesal dan pikiran negative tentangmu. Aku habiskan malam-malam bersama Tuhanku hanya untuk menangisi kepergianmu yang tak ada kabar. Melihat Si Kecil yang setiap malam mengigau memangil ayahnya, hatiku perih! Aku tak pernah lupa untuk mendoakanmu agar kau tak lupa jalan pulang. **** Seperti biasanya, pagi itu aku masih menantimu di sebuah jembatan di atas rel kereta. Pagi itu matahari bersinar begitu cerah, sedikit menyilaukan tetapi memberi kehangatan. Aku yakin hari itu kau akan pulang. Semangatku tak pernah berubah seperti pagi sebelumnya. Si Kecil pun sama, masih menatimu penuh harap. Berjam-jam lamanya kami berdiri, tapi bayanganmu pun tak tampak. Si Kecil mulai menangis menanyakan ayahnya. Sedang aku tak ingin lagi menangis. Aku tetap tegar, ini bukan kali pertamanya aku mendengar kabar angin tentang kepulanganmu. Ahh, tapi aku tak pernah bisa mengambil kembali air mata yang hendak jatuh dari pelupuk mataku. “Ayaaahh…” Si Kecil berlari memeluk rindu sang ayah. Wajah senduku berubah cerah. Akhirnya kau pulang. Aku tahu tak akan pernah ada suatu penantian yang berakhir sia-sia. Kulihat wajahmu pagi itu, tampan, kulihat kau tersenyum padaku dari kejauhan. Ujung kerudungku diterbangkan oleh semilir angin sejuk. Lalu kita pulang kembali ke istana mungil, menghabiskan sisa waktu yang kita punya. Duduk bersama saling melepas rindu. Tak ada kebahagiaan yang berarti dalam hidup selain melihat gelak tawa Si kecil yang tak mau lepas dari pangkuanmu. Seolah dia ingin mengatakan agar engkau tetap bersamanya, bersamaku! “Bun, maafkan ayah karena pulang tidak membawa apa-apa. Keadaannya sangat sulit. Ayah di PHK tanpa pesangon dari perusahaan tempat ayah bekerja.” Ucapmu malam itu. “Bunda tidak mengharapkan apa-apa. Ayah pulang dengan keadaan sehat dan bisa berkumpul lagi itu sudah lebih dari cukup.” Itu bukan ucapan klise yang keluar dari mulut seorang istri macam aku. Keadaannya memang sudah berbeda. Sudah menjadi impian setiap istri mana pun bisa hidup sejahtera dengan harta yang berkecukupan. Tapi aku tak lagi mengukur kebahagiaan dari itu semua. Lagi-lagi pikiranku adalah Si Kecil, anakku. Malam pun semakin larut. Si Kecil terlelap dalam dekapanmu. Raut wajahnya yang polos berbinar kebahagiaan. Saatnya aku yang melayanimu. Menyerahkan segala yang kumiliki untuk kau jamah dengan cinta. Merajut kasih di bawah sinar rembulan yang kupuji hanya malam ini. **** Baru saja dua hari di rumah, kamu sudah minta ijin untuk pergi lagi. Alibimu saat itu kau akan mencari kerja di luar kota. Aih, aku tak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Aku tak bisa menahanmu terlalu kekang. Memang sudah menjadi beban dan tanggung jawab dipundakmu untuk menafkahi aku dan Si Kecil. Seandainya aku bisa mengatakan bahwa aku tak ingin jauh darimu, biarlah kita hidup seadanya, asal selalu bersama. Tapi aku tak bisa merengek. Aku hanya bisa memberi saran, segala keputusan ada di tanganmu karena engkau imamku. Si Kecil ngambek dan mengancam mogok makan mendengar ayahnya akan pergi lagi. Meski dibujuk dengan berbagai cara, dia tetap bersikukuh dengan sikapnya. Celotehan-celotehan yang polos merayumu agar ayahnya mengurungkan niat. Tapi kamu tetap keras kepala. “ Fajar malu diledek teman-teman. Katanya Fajar tak punya ayah!” Aku sangat mengerti perasaan si kecil. Aku berusaha menenangkan dengan mengusap dadanya. Nafasnya yang tersenggal-senggal karena menahan sakit hati. Dia terlalu kecil untuk menanggung ini semua. Si Kecil terus menangis hingga ia terlelap dipangkuanku. Sedang kamu tak ada rasa iba sedikit pun untuk sekedar menunda tekadmu. Kamu benar-benar berangkat pagi ini. **** Sepeninggalanmu merantau, aku masih merasakan kegelisahan yang entah apa sebabnyasetiap malam kau hadir dalam bayangan mimpi buruk. Firasatku buruk. Namun aku tak ingin perasaan galau ini menjadi sugesti buruk pula padamu. Sehingga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Naudzubillah! Aku pasrahkan segalanya kepada yang Maha Kuasa. Semoga Allah selalu menjagamu, disaat penjagaanku tak dapat menggapaimu. Kegelisahanku bertambah-tambah karena hamper seminggu Si Kecil demam. Dia rindu dengan sang ayah. Berkali-kali aku mencoba menghubungimu, tapi selalu tak ada jawaban. Ratusan sms aku kirim tak jua kau hiraukan. Ada apa denganmu? Tak terpikirkah sedikitpun kau mengkhawatirkan anakmu? Adakah sesuatu buruk terjadi padamu? Ya Rabb, beri aku aku petunjukMu! Siang itu handphoneku berdering. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Harapanku kali pertama saat membukanya, itu adalah kau, suamiku! “Mulai detik ini kamu tidak usah menghubungi mas Tyo lagi. Mas Tyo sudah punya kehidupan baru disini. Tidak usah kau ganggu-ganggu keluargaku karena mas Tyo sudah tidak mencintaimu. Sepuluh bulan yang lalu mas Tyo menikahiku dan sekarang kami sudah punya anak. Urus saja hidupmu sendiri, tidak usah mengharapkan mas Tyo kembali. (ANITA)” Astagfirullah! Inikah balasan pengabdianku padamu selama lima belas tahun? Tega kau campakkan aku seperti sampah busuk yang tak bernilai. Jiwaku terkoyak asa tak berharap. Keringlah air mataku menangisimu. Pupus sirna segala penantian. Terjawab sudah kegelisanku selama ini. Ini caramu membalas cintaku? Ah, sakit luar biasa kau tikam ulu hatiku. Tak akan ada lagi hari dimana aku menantimu disebuah jembatan di atas rel kereta. Tak ada lagi senyum hangat penuh harapan menantimu pulang. Cerai! Keputusan itu memberontak dalam pikiranku. Aku tak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit. Yah, keputusan itu sempat hinggap dikepalaku. Doktrin teman-temanku yang anti terhadap poligami juga terus meracuni otakku. Mereka bilang tentang kehidupan yang tidak manusiawi dalam sebuah hubungan cinta segitiga. Bukan hanya ketidakadilan lagi yang akan kudapatkan tapi segala macam penyiksaan batin pun akan mengahantui hidupku. Wanita bukanlah sekedar bunga yang bisa dicicipi saripatinya lalu dibiarkan layu begitu saja. Menjadi single parent akan lebih baik daripada hidup menjadi pesakitan. Tak ada wanita yang tahan jika diduakan cintanya. Mereka memberikan keyakinan padaku bahwa aku sanggup memberi makan anakku sendiri. Segala rizki, jodoh dan maut bukan manusia yang mengatur. Tapi, bagaimana dengan Si Kecil? Bagaimana perasaannya jika ia tahu kenyataan yang sebenarnya? Sungguh, aku tak sanggup membayangkannya. “Bunda kenapa menangis? Jangan menangisi ayah lagi. Jika ayah sayang pada kita ayah pasti akan pulang.” “Bagaimana kalau ayah tidak pulang - pulang?” “Ayah pasti pulang, bun. Fajar yakin!” Aku tersenyum getir! Tak mungkin aku melukai perasaannya yang begitu halus. Dia terlalu sayang pada ayahnya. “Fajar, bunda mau tanya. Seandainya bunda dan ayah tidak bisa bersama lagi, Fajar akan memilih siapa? Bunda atau ayah?” “Fajar tidak akan memilih siapa-siapa. Kalau itu terjadi Fajar akan pergi dari rumah dan memilih hidup sendiri.” “Kenapa? Kan masih ada bunda yang sayang sama Fajar.” Si Kecil menatapku lekat. Sinar matanya polos. Dia terlalu kecil untuk memahami ini semua. “Kenapa bunda menanyakan hal itu? Apa ayah sudah tidak sayang lagi sama bunda? Apa ayah sudah punya keluarga baru?” Pertanyaan ini bertubi-tubi membombardir perasaanku. Tak menyangka Si Kecil dapat membaca situasi ini. Bahkan ucapannya lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak sepuluh tahun. Aku mendekap anak semata wayangku dengan erat. Tak akan aku biarkan Si Kecil melakukan apa yang ada dalam imajinasinya. Aku harus tegar demi anakku. Aku yakin pernikahan yang sudah di ujung tanduk ini masih bisa aku selamatkan. Yah, aku harus memperjuangkannya. Ku bangun kembali kepercayaanku padamu. Meyakinkan diriku bahwa kau akan kembali. Saat kami menangis bersama pintu rumah diketuk seseorang. Aku segera menyeka air mataku dan membukakan pintu. Betapa kagetnya saat kutahu yang datang adalah kau, suamiku. Dengan peluh keringat yang membasahi wajah tampanmu kusambut engkau dengan pelukan rindu. Yah, aku sangat merindukan engkau. Bagaimanapun sakit yang aku hadapi saat ini tetap saja nuraniku masih mengharapkan kau pulang. Karena aku tak mungkin mengingkari hati terdalam yang terlalu mencintaimu. **** Mari melangkah ke depan untuk menggapai harapan. Beriringan dan saling bergandeng tangan. Lebih erat! Kita bangun kembali benteng yang lebih kokoh dari sebelumnya. Tak usah menengok ke belakang lagi, sudah cukup lelah kita melangkah. Jadikan semua pembelajaran agar menjadi hamba yang lebih baik. Aku sambut kemenangan bahagia. Kemenangan seorang istri macam aku yang tidak mengerti apa-apa selain mencintai suami dengan segenap hati. Pagi itu senyumku indah seindah matahari yang baru merekah. Kecupan hangat darimu menyapaku lebih awal dari matahari. Sehabis sholat subuh berjamaah kuberitakan padamu tentang kehamilanku yang memasuki dua minggu. Si Kecil bahagia sekali karena akan mendapatkan adik. Ini adalah kejutan bahagia yang berlipat-lipat. Hadiah dari Allah karena kita sudah melewati cobaan dariNya. InsyaAllah banyak hikmah yang kita peroleh. Akan kujaga keluarga kecilku ini, tapi tentu saja dengan bantuan Allah. Yah, aku Siti Masriah, suamiku Muhammad Prasetyo, Si Kecil Muhammad Fajar Al-Maliki dan cabang bayi yang masih dalam kandung, kami adalah keluarga kecil bahagia saat ini. Berjanji akan selalu berjuang di jalan Allah. Lebih bersabar dan ikhlas menghadapi segala pemberian dariNya. Baik atau buruk sekali pun, InsyaAllah! Kabar berita tentang keadaan Anita, wanita yang pernah dinikah siri oleh suamiku sudah kami terima lewat e-mail sebulan yang lalu. Dia menyesali perbuatannya karena telah menipu suamiku dengan menuduh suamiku mengahamilinya. Menurut pengakuannya dia adalah wanita nakal yang menjajakan diri di diskotik. Suamiku hanya korban. Suatu malam sewaktu suamiku pulang dan aku memeluknya, dia berlutut meminta maaf lalu menjelaskan semuanya. Ternyata kenyataan yang sebenarnya tidak seperti yang aku bayangkan selama ini. Tak ada maksud sedikit pun suamiku akan berpoligami. Dia hanya mengambil sebuah keputusan salah, saat dirinya disudutkan pada permasalahan wanita. Ini kelemahannya. Seandainya dia jujur padaku dari awal mungkin aku tidak akan su’udzon. Ah, penyesalan memang selalu datang terakhir. Demi membuktikan cintanya padaku malam itu juga dia menceraikan Anita dan lebih memilih aku. “Demi Allah, bunda yang ayah pilih. Bunda satu-satu istri yang sholehah, penurut, penyabar dan taat. Apalagi yang kurang dari bunda. Maafkan ayah karena telah melukai hati bunda yang tulus. Maaf…” Kulihat matanya yang berkaca-kaca itu retak dan meneteskan butiran hangat di pangkuanku. Sebenarnya aku pun sama, rasanya ingin menangis sekeras-kerasnya. Hingga lepas segala beban yang menggerogoti jiwaku. Aku rapuh! “Lantas bagaimana dengan Anita? Ada darah dagingmu disana yang juga butuh dirimu?” kataku menahan tangis. “Sebelum pulang kesini ayah sudah mentalaknya. Besok ayah akan urus semua surat perceraian dengannya. Ayah dijebak, bun. Baru tiga bulan ayah mengenalnya saat dia mengatakan kalau dia hamil oleh ayah. Kemungkinan besar itu bukan darah dagingku.” “Jadi ayah pernah tidur dengannya?” Beberapa saat kau tak menjawab. Hanya sibuk menundukkan kepala. Tak sanggupkah engkau menengadah sejenak saja menatap mataku? Lalu kau jawab jujur. Apalagi lagi yang kau tutupi dari aku? “Maaf… saat itu ayah khilaf!” Ah, perih sekali hatiku saat kudengar kalimat itu keluar dari mulutmu. Tak kuasa aku membayangkan suami yang aku cintai bersetubuh dengan wanita lain. Dimana perasaanmu padaku saat kau melakukan itu semua? Tapi ya sudahlah semua itu sudah terjadi. Tak mungkin bisa kita mengulangnya dan kembali mengubah cerita lama yang tak diinginkan. Saat ini kau telah kembali jadi milikku seutuhnya. Jangan lagi menyakiti hatiku. Hanya sekali saja dan jangan terulang aku melihatmu menangis, suamiku! Cukup penyesalan itu jadi pembelajaran bagimu. Aku mencintaimu lebih dari separuh nyawaku. Tak akan pernah berhenti aku mengabdi dan berbakti padamu. Meski ada bulan dan bertaburan bintang saat malam, aku tetaplah matahari untukmu. Tetap setia menyinari meski badai datang menghadang. Cintaku padamu tak akan pernah berubah dari segala musim dan waktu.